Kau tak perlu berpikir untuk menulis sesuatu. Seorang teman pernah berkata begitu padaku. Yah, tulis saja. Tulis apa yang terlintas dalam pikiranmu, setelah selesai baru diedit. Kau tak perlu berpikir apakah tulisanmu itu bagus atau tidak, apakah kalimatnya benar atau tidak. Yang jelas tulis dan tulis saja.
Masalah edit nanti baru dilakukan setelah selesai menulis. Rasanya terdengar mudah ya. Memang mudah tapi kadang hal itu terlalu sulit dilakukan karena seringkali kita berpikir tentang kesempurnaan tulisan kita. Itulah yang kadang membatasi. Kita menjadi tertahan di satu titik dan tidak maju satu langkah pun karena terlalu lama memikirkan hal-hal atau pun pemilihan kata yang tepat. Mengubah pola pikir yang demikian tidaklah mudah.
Setidaknya bagiku. Terlalu lama didikte untuk selalu melakukan hal benar sedikit banyak mempengaruhi cara bertindak yang kulakukan termasuk dalam menulis. Aku terlalu banyak mempertimbangkan pilihan kata yang harus kupakai dalam menulis. Mempertimbangkan apakah yang kupilih benar atau salah. Ini yang menghambat tulisan untuk mengalir dengan lancar.
Kemudian aku bertemu dengan seorang sahabat pena. Yang menuliskan apapun yang keluar dari pikirannya. Itu membuat tulisannya begitu hidup karena aku tidak membaca sebuah surat tapi merasa seperti mendengarkan seseorang bercerita secara langsung. Surat yang ditulisnya menjadi tidak kaku dan mengalir enak. Seperti sedang bercakap-cakap saja. Hal ini memberiku inspirasi untuk melakukan hal yang sama. Yah, memang sulit sih!
Bahkan ketika aku menulis tulisan ini. Aku terkadang masih berhenti untuk sekedar mencari kata-kata yang tepat. Berhenti. Dan ini membuat apa yang ingin kutulis menjadi tersendat. Yah, beruntunglah mereka yang bisa mengalirkan ide mereka dengan lancar tanpa tersendat. Berpikir begitu aku jadi merasa betapa terbatasnya perbendaharaan kata-kataku dalam Bahasa Indonesia. Betapa banyaknya kata-kata yang seharusnya bisa kutemukan dalam KBBI yang dapat kugunakan untuk menulis dan membuat tulisanku menjadi lebih beragam. Ah, kosakata ternyata penting juga.
Betapa banyak kata asli, serapan yang telah berkembang mewarnai keberagaman kosakata Bahasa Indonesia. Dan dulu guruku bilang, Bahasa Indonesia masih akan terus berkembang karena bahasa ini disusun dengan menyerap kata-kata dari bahasa daerah maupun asing.
Bagaimanapun juga, kegiatan menulis itu memang harus dipaksakan untuk dilakukan.Berpikir untuk menulis saja tidak cukup. Karena seringkali apa yang kita pikirkan belum tentu hasilnya akan menjadi sama saat kita mulai perjalanan menulis. Apapun bisa terjadi dalam proses itu.
Bagiku menulis bagaikan suatu perjalanan. Di awal mungkin kita telah memutuskan ingin membuat tulisan kita menjadi sesuatu sesuai yang kita rancang. Dalam perjalanannya, kita bertemu dengan beragam ide yang tiba-tiba muncul dan membuat tulisan kita menjadi berbeda dari yang kita rencanakan semula. Dan itu tidak masalah. Tidak masalah jika tulisan kita berkembang menjadi sesuatu yang berbeda. Toh, itu tetap buah pikiran kita yang ingin kita tuangkan. Paling tidak dengan menulis keruwetan yang terjadi di otak kita bisa menjadi sedikit terkurangi. Menuangkan isi gelas yang hampir penuh ke gelas lainnya dan mengisinya dengan sesuatu yang lain.
Paling tidak untukku, menulis bisa dijadikan sesuatu untuk mengisi waktu luang. Mencurahkan kegelisahan yang kadang tak dapat disampaikan pada orang lain. Jadi menulis dan menulis sajalah. Cara efektif untuk menuangkan keruwetan dan kegelisahan. Kalau lagi pengen ya menulis, kalau tidak ya tak usah. Tak ada yang akan ribut atau usil selama tulisan kita tidak berisi sesuatu yang merendahkan orang lain atau menghina orang lain. Kalau ingin mengkritik ya mengkritik saja. Tapi bukan menghina. Bebas..bebas.. sajalah! Kan dijamin undang-undang..
Well, well.... Watta hell am I talking about here? Jez a note!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar